Cintamu terlalu Muda

Cintamu terlalu Muda

Cintamu Terlalu Muda

Cahaya rembulan menembus pohon-pohon randu di sekitar ladang. Suara jangkrik bersahutan merayakan kegembiraan malam yang terang.

“Dita, would you marry me…?” bisik Paijo di telinga Dita.

“Jo, kamu serius……?, atau kamu hanya kumbang yang hanya manis kala mengharapkan bunga”, sergah Dita penuh tanda tanya.

” Aku serius Dita, aku akan segera melamarmu kalau engkau setuju untuk menjadi istriku…”

dan segera malam berlalu………………………………

Dita kena grounded 1 bulan, rahasianya ketahuan sudah, dia pacaran dengan Paijo, anak pedagang kelontong tetangga RT-nya. Sehari2 hanya nangis saja….., bukan karena rindu Paijo tapi karena bosen di rumah.

“Assalamu alaykum……”, bel berbunyi tepat pagi ke-27 Dita dikurung.

buru2 Dita lari mau membuka pintu, kesempatan untuk melihat orang luar selain dari ibu bapaknya, pikirnya.

“Masuk …..Dita…”, teriak ayahnya.

Dita mendelik karena takut, dia kembali ke belakang….tapi diam2 mencuri dengar siapa tamu yang datang. Paijo dan orang tuanya datang untuk melamar Dita……

“Anak saya tidak akan saya serahkan kepada orang yang tidak bisa membahagiakannya, pergi…..!!!!!!” suara bapak Dita terdengar lantang.

Dita tahu pasti lamaran itu pasti ditolak, alasannya pasti karena Paijo tidak kaya lah, Paijo kurang berpendidikan lah, Paijo belum punya rumah sendiri, dan beribu alasan lain.

Malamnya Paijo mengurung diri di kamarnya, gelap….gelap….hanya gelap yang dirasakannya.

Menjelang subuh, Paijo sudah berkemas2, tekadnya sudah bulat, dia akan lari dari kampungnya, malu…malu sekali. Dia malu jadi orang miskin, malu jadi orang tak berpendidikan, malu hidup di kampungnya sendiri, kampung yang dulu sangat dicintainya.

“Saudara2, demi generasi mendatang yang lebih baik,  korupsi, kolusi, dan koncoisme, harus dieliminasi dari negara kita tercinta ini” teriak seorang gadis cantik mengakhiri orasinya, mahasiswa-mahasiswa lain tampak puas atas orasinya.

Turun panggung, tangan gadis itu ditarik sama pemuda berambut gimbal dan diajak ke pinggir lapangan.

“Dita, ada yang mencarimu, katanya pacar kamu…!!!, cerocos si gimbal.

“Busyet dah, pacar gue…..gue gampar loe macem2…!!!” Dita merasa terusik atas ulah si gimbal.

“Yah, loe dibilangin gak percaya, tuh anaknya nungguin loe di pintu gerbang kampus.”si gimbal jengkel sambil ngeloyor pergi.

Dita yang kepanasan habis orasi tambah jengkel saja, sudah jengkel sama pejabat2 Indonesia yang kerjanya cuma merusak bangsa, ditambah lagi ada yang ngaku2 jadi pacarnya dia, tanpa sepengetahuannya lagi, ketemu aja belum pernah pikirnya.

Sambil bersungut2 dia bergegas ke pintu gerbang kampus, kampus yang telah membuat dia lebih memahami derita rakyat dan derita kaum lemah, suatu hal yang tidak pernah dirasakannya dalam keluarganya yang berada.

“Heh, loe……., sapa loe ngaku2 jadi pacar gue, blon pernah nyungsep ke got loe…”, Dita langsung nyerocos begitu ketemu cowok yang dimaksud si gimbal.

“Tenang Dita…”, jawab cowok itu tenang.

“Tenang, tenang…….tenang nenek moyang loe…, kalo ngajak berantem jangan beraninya sama kaum hawa doang.”Dita nyerocos lagi nggak berhenti.

“Dita yang manis…”cowok itu mulai bicara pelan dan halus, membuat Dita agak sungkan, apalagi dia dibilang manis, dia mulai mendengarkan.

“Hurry up, I am listening…” gertak Dita

“Kamu memang nggak berubah dari dulu, tapi kamu nggak akan pernah bisa galak denganku..”ucap cowok itu dengan penuh percaya diri.

Dita tambah penasaran, belagu amat cowok ini pikirnya.

“Heh, loe gak usah bertele2, apa maksud kedatanganmu…, cepet bilang sebelum aku kehilangan kesabaran…”

“Kamu inget temen mainmu waktu kecil yang punya garis kecil di atas bibir atasnya, yang sering nyuri mangga tetangga bersamamu…?.”cowok itu mencoba meredakan kemarahan Dita dengan pertanyaan.

Dita berpikir keras, mencoba mengingat kembali masa lalu pahitnya yang berusaha dia kubur dalam2. Masa lalu dalam kediktatoran keluarga, suatu hal yang amat dia benci dan dia tentang habis2an saat ini bersama teman2 mahasiswa seluruh negeri.

“Kamu……, Kamu…., Paijo…!!!!!.” Dita terbata2

Cowok itu mengangguk. Dita lemas lunglai, serasa terasa lagi seluruh syarafnya karena kaget.

Beberapa hari berlalu…………..

“Dita, setelah kupikir matang, aku akan menyuntingmu, kalau dirimu bersedia menjadi pendamping hidupku…?,” Paijo dengan hati2 memberanikan diri meminta Dita untuk menikah, walaupun dia takut kalau Dita sudah tidak mencintainya lagi. Dita mungkin berubah pikirnya, sudah jadi gadis metropolitan.

“Tapi Paijo, ortuku pasti gak setuju, kamu masih ingat kejadian waktu itu kan….?,”sanggah Dita dengan wajah sedih.

“Aku sadar hal itu, tapi yang akan berumah tangga itu kita, asal kita saling mencintai, kita akan bersama2 mewujudkan cita dan cinta kita yang telah kita impikan dulu.., kita nikah dengan wali hakim..”ujar Paijo sungguh2.

Dita linglung, dia harus memilih antara cinta dan orang tua, sebuah pilihan pahit, peribahasa “If there are two choices, choose the third one” tidak berlaku lagi sekarang. Pilihannya benar2 cuma dua, Paijo atau orang tua.

Setelah kusut semalam itu karena banyak pikiran, Dita akhirnya memutuskan memilih Paijo, pilihan yang pahit sebenarnya, tapi dia tak bisa mengingkari kalau dia masih mencintai Paijo, terbukti dia belum pernah sekalipun begitu sreg dengan cowok2 yang mengejarnya walaupun mereka ganteng dan kaya, setelah sekian lama pisah dengan Paijo.

Pernikahan dilangsungkan sederhana di masjid kampus, sangat sederhana, hanya dihadiri teman2 terdekat saja.

Setelah menikah, Paijo dan Dita tinggal di satu kontrakan, selain untuk mengirit ongkos, mereka berencana membeli rumah sederhana dari tabungan mereka selama ini.

Mereka sama sekali tak mau mengemis pada orang tua, hal yang tabu dalam pandangan mereka. Merepotkan mereka lagi setelah kerepotan2 mereka sejak mereka dilahirkan.

Paijo bekerja sebagai redaktur sebuah harian ibukota sebagai cerpenis dan pencipta puisi, sekaligus menyalurkan hobinya sejak kecil. Dengan uang seadanya, mereka mencoba bertahan hidup di ganasnya kehidupan ibu kota.

Setahun sudah berlalu…….

Dengan menghisap rokoknya dalam2, Paijo berpikir keras…belum satu puisipun terhasilkan dari sibuknya di depan komputer hari ini. Pikirannya kalut dan bingung, Dita hamil…, kontrakan sebentar lagi habis, musti diperpanjang, apalagi penerbitan puisinya tinggal lusa.

Dia memandang Dita yang ketiduran di sampingnya, wajah ayu tanpa dosa yang setia menemani perjalanan hidupnya. Dia tidak habis pikir kadang, anak konglomerat yang mau membagi hidup dengan  orang kecil seperti dia.

Jarum jam berdentang 2 kali, dan satu puisipun terselesaikan. Matanya sudah tidak bisa diajak kompromi lagi……Paijo tertidur..

Paijo terbangun, matahari dengan garang membelai mukanya yang kusut, jendela telah terbuka, dia mencium bau mie goreng kesukaannya, rupanya Dita telah masak. Tapi dia kaget setengah mati, komputernya telah mati, padahal dia belum menyimpannya di file.

“Dita…………..!!!!!!!!”Paijo berteriak keras…..

“Ya………!!!!” jawab lembut Dita dari belakang.

“Siapa yang mematikan komputer..?”Paijo berteriak keras, merah mukanya tanda marah.

“Saya, kan Mas Jo tidur malam tadi..” jawab Dita masih sibuk dengan masakannya.

“Kamu tahu, aku harus menyelesaikan puisi itu dan besok akan terbit, dan saya belum menyimpannya, kamu keterlaluan Dita, tidak tanya2 aku dulu”, Paijo menuju ke belakang dengan bersungut2.

“Itu puisi untuk membayar kontrakan, untuk membayar makan, apa kamu nggak ngerti…?”

“Ya, tapi kan saya tidak tahu kalau belum disimpan Mas…”

“Tapi kamu kan harus tanya dulu…, kamu memang keras kepala…., sudah salah membantah terus.., kamu tidak pernah berubah Dita..” Paijo mulai kehilangan kontrol atas omongannya.

Dita mulai berubah air mukanya mendengar ucapan Paijo, air mata mulai meleleh di pipinya. Dita pergi ke kamar dan menguncinya. Paijo hanya bisa melenguh memandangi jalanan kota Jakarta yang sibuk dan penuh polusi. Dia duduk lagi di depan komputer, mengingat2 lagi apa yang ditulisnya tadi malam. Sejam berlalu……

Pintu kamar berderit…

“Ternyata orang tuaku benar, kau tidak bisa membahagiakan aku, kau hanya bermain dengan khayalanmu, bermain dengan puisi2mu, tidak ada gunanya lagi aku bersamamu, kau tidak pernah mengerti aku, aku tidak mau mati dalam filosofi2  dalam otakmu itu, aku mau pulang ke orangtuaku…, selamat tinggal Jo..!!!”, dng membawa sebuah tas jinjing Dita segera melesat pergi.

Paijo melongo, bingung mau berbuat apa, rasanya tidak percaya, kata2 yang keras dan cepat, sedikitpun tak ada waktu menjawabnya…

Dita segera hilang ditelan tikungan jalan, hilang di antara2 bajaj dan mobil2, Paijo menggigil………gadis cantik itu telah pergi, tak meninggalkan apapun………………………………………………………………………. kecuali sesal.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s