Kucit Menggugat

Kucit Menggugat



 

Malam masih memeluk bumi Nusa Dua, sebuah desa kecil yang asri dan indah di Bali Selatan. Temaram lampu2 hotel dan perumahan penduduk menyorot lembut ke langit, sedikit mengurangi kegelapan sang malam yang
tugasnya bebarapa jam lagi akan selesai. Semua penduduk masih tertidur, hanya beberapa pekerja dunia pariwisata yang masih tampak mempersiapkan hidangan pagi.
Dalam lambaian angin yang sejuk, seekor babi berteriak2 menangis. Air
matanya deras mengalir seperti sungai Ayung di musim hujan. Dia berlari kesana kemari kebingungan, dingin malam tak dihiraukannya. Dia terus berlari, berlari dan berlari sekencang2nya. Sakit bekas ikatan di kakinya
tak dirasakannya lagi. Dia hanya ingin hidup, ingin lepas dari kematian yang ditakdirkan untuknya, bukan oleh Tuhan tapi oleh manusia.
 

Brukkkkk….
Tiba2 matanya berkunang2, dia menabrak sesuatu di depannya. Ah gara2
Kucit menangis, matanya jadi agak kabur. Kucit pingsan, tak berapa lama
kemudian dia mulai tersadar, hah hah……
“Jangan, jangan, jangan, aku jangan dibunuh. Aku masih ingin hidup. Aku
masih ingin hidup.”
“Heh Kucit, kenapa kamu malam2 keluyuran sejauh ini. Berbahaya tahu,
kamu masih kecil”.
Perlahan2 kucit mulai agak jelas melihat, semula hanya bayangan gelap
keputih2an di depan matanya, tapi kemudian jelas bahwa yang ada di
deapannya adalah seekor sapi.
” Huh…, kukira siapa. Paman Sapi.., tolonglah aku.
Please..suerrr…aku saat ini butuh bantuanmu Paman. Hidupku sedang
diujung tanduk Paman
Sapi. Ini emergency…”
“Sssttt, kamu berisik amat. Nangis ya nangis, tapi segitu banget.
Kupingku sakit tahu”
” Aku takut Paman Sapi. Mereka mau menyembelihku, buat acara Galungan
besok. Lihat nih, buluku berdiri semua.”
Kucit menangis lagi, sekeras2nya. Dia berguling2 ke kanan dan ke kiri.
” Heh…babi tak tahu diri. Diaaammmm….!!!!!”
Sapi membentak Kucit. Kucit jadi terdiam……
” Toch manusia gak ada yang denger tangisanku kan Paman Sapi. Dimensi
suara mereka kan lain”
” Iya, tapi kupingku budeg tahu. Aku kan bisa denger suaramu.”
Sapi mengelus kepala babi kecil itu dengan lembut, membuat Kucit
sedikit agak tenang.
” Ayo… ikut Paman”
Kucit menurut saja, menuruni bukit kecil yang penuh dengan perdu2.
Tanah kapur yang kering memudahkan perjalanan mereka menuruni bukit,
langkah kucit yang kecil tak sebanding dengan langkah sapi, membuat Kucit harus sedikit agak berlari untuk mengejar ketertinggalannya.
Akhirnya mereka hampir sampai di kaki bukit, isyarat sapi mengatakan untuk memperpelan langkah. Setelah melewati barisan pohon2 bambu kuning, sampailah mereka di kompleks Puja Mandala. Kucit sudah ragu2
menjejakkan langkahnya di pelataran Puja Mandala. Tetapi karena Sapi dengan tenang melanjutkan langkahnya, mau tak mau Kucit juga mengikutinya.
Rasanya tak ingin lagi dia melihat manusia, trauma melihat kematian ibunya yang mengenaskan tadi malam masih sangat membekas dalam ingatannya. Dia melihat ke kiri dan ke kanan. Bersiap2 atas segala kemungkinan. Hhmmm
sebelah kanan jalan raya, sepi dan lengang, tak ada orang lalu lalang.
Sebelah kiri yang harus diwaspadai pikir Kucit. Hhhmmmm…Masjid Agung Ibnu Batutah, hah tak ada tanda2 orang bangun juga. Kucit masih juga berjalan pelan di belakang sapi. Gereja Maria Bunda Segala Bangsa, wah
malah gelap gulita. Masih aman pikir Kucit. Dia terus saja berjalan mengikuti sapi, dan tetap dalam keadaan siap siaga kabur bila ada hal2 mencurigakan. Buddhaguna Vihara, hhmmm Kucit melihat puncaknya yang
kekuning2an.
Tidak ada orangnya juga, hanya tampak puncaknya saja yang kadang2 mengkilat diterpa temaram lampu. Bangunan selanjutnya cukup gelap, tidak ada lampu yang menerangi. Samar2 di ujung Kucit melihat ada papan nama.
Gereja Protestan Bali, oohhh jadi ini gereja juga. Tiba2 Sapi berhenti, melihat ke kiri sejenak, dan akhirnya melangkahkan kaki. Mereka memasuki bangunan putih berbentuk seperti candi. Sapi celingukan, seperti sedang mencari sesuatu. Akhirnya berjalan menaiki tangga yang tidak terlalu
banyak itu. Kucit harus berjuang sedikit ekstra untuk menaiki tangga2 itu, maklum dia memang masih kecil. Setelah sampai di atas, sapi berhenti dan menunggu Kucit yang agak ketinggalan.

Setelah Kucit sampai di atas, Sapi mengendus2 kepala Kucit, membuat Kucit agak sedikit lega. 

Langit Nusa Dua diliputi sedikit mendung kehitam2an, berarak dari timur dan bercinta satu sama lain.
Angkasa sedang menghidangkan bulan untuk dinikmati makhluk bumi, memancarkan sinar lembut
dan mengajak air laut bergoyang.

” Paman Sapi, kenapa kau mengajakku ke sini…?”
” Karena penderitaanmu bermula dari sini Kucit, dari ketidak mengertian
manusia atas esensi hidup.
Karena penderitaanmu juga preseden buruk atas ajaran2 agama yang
memperbolehkan pembunuhan
atas bangsa binatang.”
” Tapi tidak semua agama sejahat itu Paman, ada beberapa ajaran agama
yang melindungi binatang, dan
menganggap beberapa binatang sebagai makhluk suci. Paman sendiri
dianggap sebagai makhluk suci oleh
orang Hindu, kebalikan dari aku yang dianggap sebagai santapan. Kurang
ajar benar mereka itu, manusia
terkutuk”
“Menganggap binatang sebagai makhluk suci juga tidak menyelesaikan
masalah, di dunia ini tidak ada yang
suci Kucit. Hanya Tuhanlah satu2nya yang suci. Sama seperti orang Islam
yang tidak pernah memakan babi sepertimu,
landasan mereka bukanlah karena kamu memang makhluk hidup yang harus
dihormati hak2mu sebagai makhluk hidup,
tapi karena mereka jijik melihat kamu, menganggap kamu memiliki penyakit, dan kalau perlu kamu harus dimusnahkan
dari muka bumi”
” Ah Paman, biarlah mereka menganggapku begitu, yang penting banyak
saudara2ku terselamatkan karena ajaran itu.”
” Kau jangan egois babi kecil, dari jenismu itu mungkin menguntungkan,
tapi dari jenisku ajaran Muhammad sangatlah
barbar, kau bayangkan berapa juta saja saudara2ku dibunuh tiap tahunnya
sebagai binatang korban. Bukannya dilarang,
tapi malah dianjurkan.”
Kucit terdiam,airmatanya meleleh….., hatinya geram pertanda amarah,
spontan keluar suaranya grok grok grok dari hidungnya seperti
suara orang ngorok.
” Dasar babi cengeng, kenapa kau menangis lagi…?”
” Aku teringat ibuku Paman Sapi, aku melihat dengan mata kepalaku
sendiri bagaimana ibuku menjerit2 menyebut namaku saat lehernya
diterpa pisau tajam dan mengucurkan darah begitu derasnya. Inikah bukti
bahwa manusia memang ciptaan Tuhan yang bermartabat,
kejam Paman…kejam…mereka kejam…!!!!!!”
“Sudahlah…, itu sudah terjadi. Kematian bukanlah akhir kehidupan
Kucit. Kematian adalah awal kehidupan baru. Suatu saat kau akan bertemu
ibumu lagi. Kau masih punya bapak..?”
” Aku tidak pernah tahu siapa bapakku Paman. Aku lahir dari inseminasi
buatan.”
Sapi jengah…, timbul rasa ibanya yang dalam terhadap babi kecil
disampingnya itu. Diendusnya kepala Kucit, sambil dihapusnya airmata yang
masih meleleh di pipi.
“Kau lihat bintang2 di langit itu…?, mereka juga lahir tanpa Bapak,
bahkan tanpa Ibu. Setiap hari lahir ribuan bintang2 baru, menyemarakkan
peta
semesta. Walaupun tanpa Bapak Ibu, tapi mereka tegar, selalu menawarkan
sinarnya untuk siapapun yang membutuhkan. Jika saja mereka agak
lebih dekat dengan kita, mereka akan seterang matahari, bahkan lebih
terang lagi. Kaupun harus selalu begitu Kucit, kehadiranmu harus selalu
menjadi penerang, berilah makna2 baru kepada lingkunganmu, junjung
tinggi persamaan hak untuk semua jenis makhluk hidup.”
“Paman, aku harus balas dendam. Kematian ibu harus dituntaskan, nyawa
harus dibalas dengan nyawa. Siapakah manusia yang merasa berhak
membunuh sesama binatang, mentang2 mereka dikaruniai otak yang lebih
baik dari kita. Apa gunanya otak itu kalau perilakunya juga sama dengan
binatang2 yang lain, bahkan lebih parah.Perbuatan mereka tak bisa
dibiarkan begitu saja Paman”
” Kau kira kau bisa melawan mereka, gunakan otakmu tolol…!!!!!,
superioritas mereka jauh di atas kita,  melawan mereka bukan dengan kekuatan
nafsu dan kekuatan jasmani, tetapi kekuatan otak”
“Kekuatan otak, Paman jangan bergurau. Mereka lebih berotak daripada
kita Paman. Apakah Paman belum tahu, di koran2 mereka, di internet,
di tv, sudah berjejal bukti2 kalau saja manusia tidak mendomestikasi
dan memakan binatang lain, akan banyak nyawa manusia lain yang
terselamatkan.
Di Amerika Serikat saja Paman, jika saja penduduknya mau mengurangi konsumsi daging 10% saja, maka makanan berupa biji2an yang diberikan kepada binatang yang menghasilkan daging, akan cukup untuk memberi makan 60
juta manusia2 kelaparan tiap tahunnya. Tetapi mereka menutup mata atas statistik2 seperti itu Paman. Kurang bukti apa lagi, mereka sudah tahu bahwa binatang juga  berbahasa, walaupun karena kebodohan mereka sendiri,
mereka tidak mengerti bahasa itu. Aku bisa melihat jin, melihat setan, melihat makhluk2 aneh di bumi ini Paman, bahkan aku bisa mengetahui kapan ada bencana,
tapi aku tidak pernah sombong. Tetap manusia Paman, dengan sombongnya
mereka mencampakkan bukti2 itu di got sampah.”
“Ada benarnya juga kamu anak ingusan, kebenaran itu tak akan berarti apa2 jika diingkari dan tidak dilaksanakan. Yah, tapi begitulah. Tuhan saja yang begitu jahatnya membiarkan kita didomestikasi sedemikian rupa
tanpa ada pembelaan apapun dari-Nya.”
” Menyalahkan Tuhan juga tidak membawa hasil baik Paman. Bukankah Tuhan sebenarnya sudah lepas tangan sejak Ledakan Besar atau bahasa kerennya
Big Bang itu. Sejak itu, semesta dibiarkan bergerak, bergoyang, berkembang semaunya sendiri. Jika kita pada kondisi yang sekarang ini, evolusi kita saja
yang kebetulan bernasib jelek. Tapi kita tidak boleh menyerah pada
nasib Paman, kita harus memberontak. Kita harus menuntut hak2 kita, kita tidak boleh tinggal diam di saat manusia dengan wajah tanpa dosa membantai 9 milyar sesama binatang tiap tahunnya.”
“Aku juga tidak mengerti Kucit, dengan kepandaian mereka, sudah semestinya mereka bisa menciptakan daging2 sintetis yang tak kalah enaknya dengan daging2 kita ini. Mungkin dengan mendomestikasi kita, mereka
masih tetap berharap melestarikan status quo mereka sebagai penguasa alam, bukannya sebagai bagian dari alam.”
“Hah Paman ini, teologi harapannya terus yang dikemukakan. Akuilah Paman, the truth is sometimes hurt. Memang menyakitkan untuk mengakui bahwa kita ini di
bumi, sesama binatang saling membunuh satu sama lain. Piramida Kehidupan katanya. Tapi justru itulah tantangannya Paman Sapi, kita harus melawan takdir
kuno itu. Semua binatang harus bisa hidup hanya dari tumbuh2an. Kau tidak lihat buktinya Paman, Si Meong, kucing liar kudisan di bukit Kampial
sana. Seharusnya dia Carnivore, pemakan daging. Tapi toch kalau terpaksa dia bisa makan
nasi, dan nyatanya hidup sampai sekarang. Kalau masalah dia kudisan, lha itu salahnya sendiri, wong gak pernah mandi”
Sapi tertawa terbahak2…, sampai perutnya kembang kempis, Kucit ikut
meringis. Suasana sudah menjadi begitu cair, Kucit sudah tenang
sekarang. Sapi pun kelihatannya
malah sekarang harus mengakui kehebatan retorika babi kecil itu.
Tiba2 terdengar suara bedug
bertalu2…Dug…dug…dug…dugdugdugdug…dug….dug…dug…dug…Kucit kaget setengah mati, dia langsung
berdiri dan bersiap2 lari sekecang2nya.
Sapi langsung menghadangnya…..
” Tenang..tenang…itu suara bedug dari Masjid Ibnu Batutah, mereka mau
sholat Subuh. Sebelum terang ayo ikut Paman ke tempat yang aman, kamu
pasti akan selamat di sana,
tapi dengan syarat, jangan sampai kamu keluar siang. Janji…???!!!!”
” Ya deh aku janji, yang penting aku selamat Paman.”
Mereka berjalan keluar dari Pura Jagatnata, beriringan seperti bapak
dan anak, sementara langit Nusa Dua sudah mulai berwarna semburat
kekuningan, tanda mentari akan
sebentar lagi menyapa makhluk bumi.

NB : 1. Kucit berarti Babi Kecil dalam Bahasa Bali
2. Kompleks Puja Mandala adalah kompleks 5 tempat

peribadatan di bukit Kampial Nusa Dua. 

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s