Revolusi Mata Hati

Revolusi Mata Hati




Kawan2, dalam semangat kebebasan dan kebersamaan, marilah kita kepalkan tangan kita ke atas dan berteriak merdeka, sekaligus sebagai tanda dibukanya rapat singkat malam ini”

Ruangan riuh, pimpinan rapat, seorang pemuda berbadan gempal, berambut kriting dan berkulit hitam segera memberi aba2……………..
“Satu, dua, tiga….”
” Merdeka………………!!!!!”
Hampir 200-an pemuda dan anak2, pria dan wanita berjubel di tempat kecil itu. Suasana pengap namun begitu cair, dingin cuaca menambah kedekatan satu sama lain. Mereka lesehan membentuk lingkaran, di tengah2 lingkaran, setangkai mawar merah dengan beberapa helai daun yang masih berwarna hijau tua berdiri tegak menawarkan cinta dan persahabatan.  Serta kain putih panjang bertuliskan :
*
Follow every rainbow, till you find your dream
A dream that will need all the love you can give
Every day of your life for as long as you live…
Pimpinan Rapat :” Kawan2 senasib serasa, kita berkumpul di sini, mencoba mencari jalan keluar terbaik atas nasib bumi. Semakin ke depan, bumi bukannya semakin baik, tetapi malah semakin kotor oleh perbuatan manusia. Kita memang belum lama dilahirkan, banyak yang belum kita tahu, dan kita masih perlu banyak belajar. Tapi satu hal pasti kita tahu, kita berhak menentukan masa depan kita sendiri. Jika keadaan seperti sekarang ini berlanjut, masa depan kita terbelenggu oleh kegelapan, setan2 semakin berani berkeliaran dan memakai jubah kebaikan. Dan mau tidak mau kita harus mengakui, itu masa depan kita kawan-kawan. Silahkan…tanggapan dari kawan2..”
Delegasi Aceh : “Permasalahan yang kita hadapi sangat kompleks Kawan2 semua. Tapi kalau kita tilik dari sejarah peradaban manusia, sudah menjadi sunnatullah (hukum alam) bahwa kesejahteraan bangsa di dunia ini digilirkan. Jadi…”
Delegasi Rusia : ” Interupsi…., kawan…, kau bilang kesejahteraan itu digilirkan. Dari mana kau ambil kata2 itu, kenyataannya adalah kesejahteraan diambil atau bahkan dirampas dari manusia satu untuk kesejahteraan manusia lain. Itu sangat berbeda dengan penggiliran. Dan kalau kita masih waras, kesejahteraan itu hak semua manusia, bukan hak sebagian kecil manusia.”
Delegasi Iran : ” Aku sependapat denganmu kawan dari Rusia. Manusia dari dulu sampai sekarang, dari berbagai suku, agama, ras, selalu mengatakan bahwa tujuan diciptakan manusia adalah rahmat bagi alam semesta, tetapi kenyataan berbicara lain. Kehadiran kita justru sering menjadi malapetaka buat alam dan penghuninya.”
Delegasi Gabon : ” Kawan, aku rasa wacana penggiliran kesejahteraan ini tidak mengena pada substansi rapat kita malam ini. Yang harus kita pahami bersama adalah bahwa bumi ini akan dititipkan kepada kita, dan yang nantinya akan kita teruskan kepada anak cucu kita. Permasalahannya adalah apakah titipan itu akan dengan baik sampai kepada kita, sehingga kita suatu saat akan dengan baik pula meneruskannya kepada anak cucu kita.”
Delegasi Lithuania : ” Jawaban atas pertanyaanmu sudah jelas kawan dari Gabon, kita akan mewarisi dunia yang carut marut. Yang oleh orang tua kita telah dibelok2an seperti benang kusut. Dan kita sebagai generasi penerus, tidak punya pilihan lain, kita harus menuntut.”
Delegasi Rusia : ” Dunia sudah gila kawan, planet kita yang biru dan subur ini, masih saja ribuan orang mati tiap harinya karena kelaparan. Kelaparan yang terstruktur, kemiskinan yang sengaja dibuat. Jauh lebih banyak dari kematian 2000 an manusia di New York karena ulah biadab teroris itu. Dan yang memerangi teroris pun tak kalah biadab, hanya menggunakan isu teroris untuk kepentingan sendiri. Menguasai dunia dan sumber2nya. Mereka bisa ongkang2 di istana dan tanah2nya yang luas, sedangkan atas ulah mereka ribuan orang membeku di tenda2 sementara, kekurangan makanan dan selimut hangat di musim dingin.”

Delegasi Malaysia : ” Engkau benar kawan, perang melawan terorisme, perang yang patut ditertawakan. Apakah mereka jujur dengan menyebut bangsa kami teroris, bukankah bangsa2 utara itulah yang dari dulu teroris, bahkan sekarang pun masih menyebarkan kematian dan teror di negara2 kami. Kapitalis2 itu selalu berprinsip “Bersama kami atau melawan kami”, dan kawan2 pun sudah tahu pasti bahwa kata2 “bersama kami” sama dengan “melayani kami”. apakah mereka kira bahwa sistem mereka yang terbaik. Sistem itu tidak ada yang sempurna kawan, norma itu relatif sahabat. Bukankah bangsa2 dari Utaralah yang sejak dulu menjajah dan merampok kekayaan bangsa selatan, memperkosa hak2, dan dengan enaknya pergi tanpa pernah meminta maaf sama sekali. Tujuan mereka sudah jelas, menguasai. Siapapun yang menentang dihabisi. Sekarang mereka lebih menyebut kalangan Islam sebagai lawan, padahal perang ini bukanlah perang melawan Islam apalagi terorisme, tapi perang antara yang mau mendominasi dan yang tidak mau didominasi. Hegemoni bangsa Utara sudah waktunya dihentikan. Semua bangsa berhak menentukan nasibnya, siapakah bangsa Utara yang merasa berhak mengatur bangsa Selatan.”

Delegasi Vatican :” Aku setuju kawan, suatu saat jika Islam telah hancur, kekuatan apapun yang mencoba menyaingi atau berkata tidak atas kekuasaan bangsa Utara, pastinyapun akan dihancurkan”
Delegasi Cina : ” Tapi permasalahan ini tidak hanya masalah Utara dan Selatan, Barat dan Timur. Lebih jauh dari itu, penguasa2 tiran ada di semua negara. Tidak hanya bajingan global yang ada, tetapi bajingan lokal pun tak kalah banyaknya.”
Delegasi Palestina : ” Maaf kawan, agenda utama kita haruslah masalah Palestina. Karena kalau masalah Palestina tidak diselesaikan, itu akan menjadi dosa sejarah yang akan kita tanggung. Tahun 1948, kami telah diusir dari tanah air kami sendiri, kemudian kami pun harus terusir dari barak2 pengungsi. Bukankah bangsa manusia sudah sepakat, bahwa penjajahan itu haram, dan tak bisa dilegalisasikan dengan alasan apapun. Tapi penjajahan Israel atas Palestina benar2 di luar batas, tidak hanya tanah kami yang diambil, tetapi juga kebebasan kami, akses ekonomi, bahkan hak kami untuk tersenyum pun sudah tiada lagi. Dan penjajahan atas kami justru mendapat dukungan dari negara superpower, dan kami yang berjuang menuju kemerdekaan justru disebut teroris. Demikianlah kawan2, sejak dulu ketika bangsa terjajah ingin merdeka, selalu digembar-gemborkan propaganda bahwa perjuangan itu salah dan tak berprikemanusiaan, padahal siapakah yang tidak berprikemanusiaan, yang menjajah atau yang dijajah…?. Kau di sana, bangsat Israel, seharusnya tidak ada delegasi Israel di forum yang dinafasi kemerdekaan dan kebebasan ini.”
Delegasi Israel : ” Kawan, berpikirlah lebih jernih, engkau bilang begitu karena engkau belum mengenalku, aku sendiri tidak setuju akan kebiadaban bapakku, engkau kira aku senang ketika melihat saudara2ku menangis karena ketakutan, kelaparan dan kehausan, sedangkan aku duduk nyaman di depan televisi, makan enak dan tidur di kasur empuk. Kami sudah cukup bersalah ketika mengusirmu dari tanah kalian dulu, dan kalian sudah cukup baik dengan tidak mengungkit2 itu. Kami tahu bahwa keinginan kalian hanyalah merdeka dan hidup berdampingan. Seharusnya negara Israel pun tidak pernah ada, tetapi karena kemurahan manusia Palestina lah negara Israel ada. Kami kaum muda, berjanji untuk membuat hubungan kami dengan kalian menjadi hubungan yang sepadan, dan sebagai rasa tanggung jawab kami sekaligus sebagai wujud rasa bersalah, kami berjanji untuk membantu kalian sekuat tenaga untuk bisa sejahtera.”
Delegasi Palestina :” Mulut manis, hanya bicara tapi tak pernah ada buktinya, kami sudah kenyang dengan janji2 kalian sejak perjanjian Oslo. Pimpinan rapat, saya minta dengan hormat agar delegasi Israel dikeluarkan dari forum ini.”
Mata delegasi Palestina sudah merah menyala, seakan2 hendak menerkam mangsa. Mencoba berdiri dan menghampiri delegasi Israel. Beberapa delegasi akhirnya memegangi bahu delegasi Palestina agar tidak terjadi keributan yang lebih parah. Pimpinan delegasi segera mengetukkan palunya.
Pimpinan Delegasi : ” Tenang kawan2….saya mohon untuk tetap menggunakan kepala dingin dalam forum ini.”

Delegasi Australia : ” Kawan, kita jangan terkotak2 seperti ini, saling curiga di antara kita, dengan segala alasan. Perang peradaban kita saat ini sengaja diciptakan, karena tidak ada yang berkuasa kalau tidak ada yang dikuasai. Hubungan dunia utara dan selatan adalah hubungan tuan dengan buruh. Hubungan antara Barat dan Timur adalah hubungan antara yang mau mendominasi dan yang akan didominasi. Tapi yang kawan harus sadari, kita tidak bisa pukul rata. Banyak di antara manusia2 Barat juga sadar bahwa tata dunia kita sekarang ini carut marut, perlu diperbaiki. Tak sedikit manusia2 Utara merasa perlu untuk memperjuangkan manusia2 dari Selatan. Justru di forum seperti ini kita bertemu, untuk membangun kesadaran bersama, bahwa penindas ada di mana2 tak perduli bangsa, agama, ras atau embel2 apapun yang dia miliki. Dan penindas2 itu harus kita lawan bersama2″

Delegasi Ethiopia : ” Di saat satu negara bingung melawan obesitas (kegemukan), negara lain kekurangan makanan, kalian tahu, kami cuma makan kubis2 liar dari semak2 itu tiap harinya, itupun tidak selalu ada. Tetapi ketika kami meminta bantuan, kalian bilang itu hanya kesalahan kami. Kesalahan bangsa bodoh yang tak mampu menghidupi diri sendiri. Tapi kalian harus juga tahu, ini fenomena global kawan, jika kau mengotori langit, langit kamipun terkotori. Jika kau melubangi ozon, panasnya bumi pun kami ikut merasakan. Kalian bisa bersenang2 tetapi kami menerima akibat dari perbuatan kalian. Segelintir ada yang mengulurkan tangan, tapi uluran dari negara kalian pun datang dengan setengah hati, membantu kalau sudah kelaparan kami mewarnakan kematian. Itupun harus dikompas sana-sini oleh birokrat2 kami.”

Delegasi Uni Eropa : ” Kami cukup bersedih atas penderitaanmu kawan, karena bapak2 kami juga yang mengotori langit biru kita itu. Tetapi negara2 kami sudah menandatangani protokol Kyoto, kami akan mengurangi emisi gas rumah kaca.”

Delegasi AS :” Ya, aku akui, picik pikiran bapak2ku, berpikir keuntungan sesaat dengan tidak menandatanganinya, sehingga industri2 mereka tetap eksis dan  untung besar. Padahal mereka dengan sadar-sadar telah menciptakan kiamat buat bumi kita.”

Delegasi Sierra Leone : ” Kemewahan2 negara kaya sering menebarkan derita di negara dunia ketiga. Cincin2 berlian yang orang2 kaya gunakan membiaskan darah2 kami, terpotongnya tangan dan kaki kami, terbunuhnya bapak, ibu, dan saudara kami. Aku menuntut perhatian para pemakai berlian atas tumpahnya darah di tanah kami”
Delegasi Chili : ” Kawan, presiden kami yang begitu baik pun, Salvador Allende, digulingkan. Sederhana juga kawan, karena dia bilang tidak pada AS. Berani menasionalisasi semua kekayaan negara untuk kesejahteraan rakyat banyak, dan jelas perusahaan2 besar AS yang mengeruk kekayaan Chili kebakaran jenggot. Dan dengan gampangnya mengotaki rejim militer yang represif dan culas.”
Delegasi AS :”Kawan, jangan kira nasibku lebih baik, mereka bilang negaraku menggunakan asas demokrasi, tetapi kenyataannya oligarki. Kekuasaan hanyalah milik orang2 bermodal tinggi. Perbudakan modern masih merajalela. Mereka mau membentuk kekaisaran Amerika Utara, setelah Eropa Barat yang sudah ompong tak punya gigi lagi, mereka mau mengganti posisi itu, sebagai penguasa dunia, pemerkosa budaya lokal, dan penjahat yang memaksakan budaya dan sistemnya kepada setiap manusia di seluruh dunia. Dan jangan kira kesejahteraan itu milik semua orang, lebih dari 25 juta penduduk AS hidup di bawah garis kemiskinan, ratusan ribu tak punya rumah, jutaan tak punya akses kesehatan yang cukup.”

Delegasi Qatar : ” Doktrin Machiavelli sudah menjadi agama bagi kebanyakan politikus, altruisme sudah dibuang di pojok2 sejarah.”

Delegasi Cina ” Aku diajari atheist, tidak mempercayai Tuhan, tapi sebagai gantinya aku disuruh menyembah Mao Ze Dong. Menyembah manusia yang telah mengakibatkan kelaparan yang mengakibatkan 20 juta orang mati hanya  karena idealismenya yang kelewatan.”
Delegasi Arab Saudi : ” Kawan, negaraku kaya minyak, tapi seluruh minyak hanya untuk kekayaan monarkhi tak berbudaya itu, yang hanya bisa membuat harem, memperlakukan perempuan sebagai budak seks semata, dan menggunakan kekayaan nasional untuk memenuhi rekening2nya di bank2 Swiss. Raja2 itu adalah warisan sejarah yang perlu dibasmi.”
Delegasi Brunei : ” Seharusnya kekayaan alam dipergunakan untuk kesejahteraan rakyat dalam jangka panjang. Bukan digunakan untuk hura2 raja dan hulubalangnya. Nasib kami Kawan, beberapa dekade lagi, ketika kekayaan alam sudah habis, maka kami akan menjadi pengemis. Sejak kapan pula mereka merasa berhak memerintah kami, menguasai kekayaan alam, membangun istana seribu satu malam. Aku setuju usulmu Kawan, para raja2 itu harus dibasmi.”
Delegasi Korea Utara : ” Kawan, aku dibiarkan kelaparan oleh keluarga Kim bangsat itu, kedinginan dan terisolir. Lebih memikirkan senjata dan jumawa daripada kesejahteraan rakyatnya, psycho yang narsis dan perfeksionis.”
Delegasi Afghanistan : ” Kawan, mereka menjual senjata kepada musuh, untuk kemudian musuh itu diperangi lagi, sungguh gila, Logikanya dimana…?, hanya segepok uang kawan. Menciptakan perang agar senjata laku dijual. Mereka yang berteriak2 menentang senjata pemusnah masal, justru merekalah pengekspor utama senjata2 itu. Kawan2 pasti sudah tahu, 90 % senjata justru diproduksi dan dijual oleh negara2 besar seperti AS, Prancis, Russia, dan Jerman. Sedangkan, disaat yang sama mereka melarang setiap negara yang mau memproduksi senjata. Hal ini harus diubah kawan, kita harus berubah paradigma. Kita, manusia membuat senjata, oleh karena itu, senjata tidak berkuasa atas manusia”

Delegasi Sudan : “Menyedihkan memang kawan, di mana hati mereka yang dengan suka rela dan bangga menciptakan alat2 untuk membunuh sesama. Tidakkah mereka tahu, bahwa nyawa walaupun satu, itu berharga dan harus dihormati keberadaannya. Setiap hari ribuan manusia menjemput kematian di ujung peluru, seakan tidak ada harganya nyawa2 itu.”

Delegasi Jepang : “Sudahlah kawan, forum ini jangan malah digunakan untuk curhat, semua negara punya masalah masing2. Kalau forum ini hanya digunakan untuk curhat, seminggu lagi pun belum selesai. Satu yang pasti Kawan2….,Orang2 Tua itu harus kita gulingkan, yang masih menganggap bahwa ras, suku, agama itu lebih penting daripada perbuatan, yang beragama hanya dari ritualnya, yang mementingkan harta dan kekuasaan daripada kesejahteraan anak cucunya, kau bisa sebut semua kesalahan mereka, tapi yang paling penting mereka tidak pantas lagi memimpin kita, kita gulingkan mereka atau kalau perlu kita penjarakan dan kita tatar sampai sadar”

Delegasi Filipina : “Setuju kawan, mereka seolah2 merasa lebih tahu tentang dunia, menganggap dunia adalah pengetahuannya. Dan kita dipaksa untuk percaya, tapi mana mungkin kita mempercayainya, kalau hasil dari didikan mereka adalah dunia kita ini yang tak berbudaya, bukannya beradab tetapi penuh manusia biadab.

Delegasi Cina : “Kita akan menggulingkan bapak2 kita, ibu2 kita, paman2 kita, kakek2 kita, dan semua yang menentang ide2 ttg persamaan hak dan kewajiban warga negara dunia”

Delegasi Indonesia : “Kalau mereka melawan.., bagaimana..?”

Delegasi Kuba : “Ini perang kawan, yang melawan harus kita bantai, tidak ada gunanya lagi punya orang2 tua yang justru menyengsarakan masa depan anak2nya”

Delegasi Pantai Gading : “Dengan kekuatan kita bersama, kita akan singkirkan orang2 tua yang kurang ajar itu dari percaturan dunia. Kini sudah saatnya, tata dunia baru yang benar2 baru, bukan hanya retorika.”

Delegasi India : ” Tetapi sebisa mungkin kita menggunakan cara yang elegan, menggulingkan mereka dan kita sadarkan”

Delegasi Kuba : “Tidak bisa kawan, perjuangan ini mau tidak mau harus dengan kekerasan, percayalah padaku, bahwa dengan cara elegan, mereka tidak akan bergeming. Kau sadarkan pun mereka tak akan mau sadar, nafsu binatang mereka adalah nafsu yang sudah mengakar dan mendarah daging, tidak akan sembuh sebelum mereka mati.”

Delegasi Tibet : “Kawan, sebaiknya kita harus berpikir jernih, jangan sampai tujuan mulia kita, justru kita capai dengan cara yang tidak mulia. Pembunuhan dengan alasan apapun tetaplah tidak bisa dibenarkan. “

Rapat ribut, masing2 punya pendapat sendiri mengenai bagaimana revolusi ini akan dijalankan, forum terpecah menjadi dua kubu, yang menginginkan revolusi radikal dan menginginkan revolusi elegan. Ternyata yang mendukung revolusi radikal lebih banyak, dan itu membuat pendukung revolusi elegan bersedih hati dan akhirnya walk out.

Delegasi India : “Kawan, aku di sini mewakili mata hati, revolusi kita tak akan berarti jika hasil dari revolusi ini justru membawa ketakutan dan kehancuran peradaban. Kau ingat betapa Mahatma Gandhi dan Martin Luther King tercatat sebagai pejuang terhebat sepanjang masa, karena kelihaian mereka memainkan politik tanpa kekerasan. Memang revolusi elegan lebih membutuhkan kesabaran dan permainan taktik, tapi bagiku kawan, itulah jalan terbaik. Jika kalian semua memilih jalan radikal, saya akan keluar dari forum ini. Aku tak ingin sejarah menulis darah.”

Beberapa dari delegasi juga memutuskan untuk keluar dari forum, mau kembali ke negara masing2. Forum semakin ribut tidak karu2an. Karena tanpa kekompakan, gerakan revolusi global ini hanyalah omong kosong belaka. Sebagian besar delegasi yang masih dalam ruangan kebingungan, tanpa kawan2 yang walk out, rapat ini bisa dibilang kurang representatif. Selain kurang representatif, jalannya revolusi pun akan setengah2 karena tidak berlaku di seluruh negara. Setelah diskusi cukup lama, akhirnya delegasi yang walk out diminta untuk kembali, karena memang harus ada perubahan strategi.

Pimpinan Delegasi : ” Terima kasih atas kesediaan kawan2 semua untuk kembali lagi dalam forum ini. Setelah berdiskusi lagi, sebagian besar delegasi juga lebih menyetujui revolusi elegan.”

Delegasi Kuba : ” Socialismo o muerte…..Sosialisme atau mati………..Sosialisme itu jawaban kawan, percayalah padaku. Tetapi jalan menuju ke sana berliku dan penuh tajamnya kerikil dan batu. Tapi jangan pernah menyerah, karena Tuhan bersama para pemberani. Kami berani bilang tidak atas kekuasaan AS, dan kami tahu resikonya. Diisolir habis2an, akses ekonomi di tutup, tapi kami tetap bertahan. Pendidikan tetap gratis buat anak2 Kuba, bahan pokok masih sangat murah untuk rakyat biasa, pengobatan gratis untuk semua warga negara. Kami memang tidak kaya, tapi kami tidak mau menukar idealisme kami hanya untuk mobil2 mengkilap, atau rumah2 mewah. Kami berbagi suka dan duka bersama. Tapi apa yang kami dapat dari koran2 kapitalis itu, hanya cacian dan hinaan, tapi percayalah kawan, kami tidak akan bergeming. Bersama presiden Castro kami yang tercinta, kami akan menghidupkan negara sosialis yang ideal. “

Delegasi Selandia Baru : “Dalam banyak hal aku setuju denganmu Kawan dari Kuba. Tetapi harus kita ingat, bahwa tidak semua yang bermulut manis selalu mengeluarkan madu. Lenin fasis, Mao Ze Dong fasis, Musollini fasis, Stalin fasis, bahkan Castro pun sekarang cenderung fasis. Ketika berhadapan dengan nafsu manusia, ideologi kadang tidak menentukan lagi Kawan2. Tetap harus ada check and balance dalam pemerintahan. Aku setuju bahwa sosialisme adalah sistem yang harus kita gunakan, tetapi aku tidak setuju sama sekali jika jalan kedidaktoran digunakan untuk menuju masyarakat sosialis. Demokrasi harus tetap berjalan beriringan dengan sosialisme. walaupun negara2 kaya tak pernah mengakui bahwa mereka memakai sistem sosialis. Dalam kenyataannya sistem mereka adalah sosialis, walaupun dengan munafiknya menyebut sistem itu welfare state. Yang masih kita perlu lakukan dalam skala global adalah mentransformasikan welfare state atau sosialisme itu dalam hubungan antar semua negara di dunia ini. Jadi kesejahteraan satu negara tidak bertumpu di atas penderitaan negara lain.

Delegasi Malaysia : ” Benar Kawan, Kami di Malaysia percaya akan globalisasi, karena dunia memang tidak bisa menghindari panggilan masa depan itu. Tapi globalisasi bukan berarti perekonomian yang dikuasai oleh segelintir orang atau segelintir kaum ataupun segelintir bangsa. Globalisasi juga berarti transformasi, jika engkau negara kaya, engkau juga harus membuat negara lain kaya, jangan malah memerahnya. Dan jalan globalisasi tidak selalu harus sama, semua negara berhak menentukan jalannya sendiri2. Memang tidak semua negara dikuasai oleh orang2 yang tepat, tapi jika memang begitu, itu bukan alasan juga untuk menguasai negara itu. Percayalah pada kekuatan rakyat, perkuat mereka kalau kau memang mau membantu, karena mereka sendiri yang akan menggulingkan kekuatan2 saudara2 sebangsa yang serakah dan tamak itu.

Delegasi Iran : ” Aku setuju pendapat kawan dari Malaysia, tidak ada sistem yang benar2 sempurna, semua saling melengkapi. Yang paling penting adalah bagaimana kita menghormati satu sama lain”

Delegasi Ghana : ” Kalian boleh bilang bahwa globalisasi itu diperlukan, tetapi globalisasi yang kalian perjuangkan lebih banyak globalisasi barang, sedangkan manusia dikecualikan dari globalisasi. Kalau boleh, aku menamakannnya globalisasi setengah hati. Semua negara diharuskan membuka lebar2 batas negaranya untuk barang2 dari luar negeri, tetapi di saat yang sama menutup rapat2 untuk manusia yang mencari penghidupan. “
Delegasi Venezuela : ” Setuju, globalisasi harus benar2 menyeluruh, dan bukan ditentukan oleh interpretasi globalisasi sebagian negara kaya. Globalisasi komoditi, informasi, ekonomi, budaya, dan globalisasi manusia. “
Delegasi Indonesia :” Kawan, kami dicekoki oleh kurikulum2 sejarah menyesatkan, bajingan yang membantai ratusan ribu saudara2ku yang dianggap komunis itu telah menjadi pahlawan2 suci di buku2 kami. Dan sejak kesuciannya itu, kami dibungkam dan dikebiri, dihibernasi oleh dogma2 tak berarti. Sedangkan dengan sadar di saat yang sama, pulau2 kami yang beribu2 itu telah dirampok dan disedot oleh manusia2 serakah itu, tentu saja dengan bantuan tangan bangsa2 utara yang datang atas nama globalisasi. Negara kami penuh petualang politik sejati. Dan kini banyak yang mendukung pembentukan negara berdasarkan agama”
Delegasi Mesir : ” Kawan, sejak kapan pula dalam sejarah dunia ini ada negara maju berdasarkan agama…? Tapi orang2 tua kita memang pandai berkhayal, romantisme masa lalu yang tak masuk akal pun dipaksakan untuk diterapkan di jaman ini.”
Semua delegasi melirikkan matanya ke delegasi Indonesia dan delegasi Mesir, gedeg juga melihat delegasi Indonesia yang mulai curhat, gedeg melihat ada juga yang menanggapi curhat itu, jaka sembung bawa golok (udah nggak nyambung…guoblok) padahal tadi sudah diputuskan untuk membahas masalah2 yang lebih substansial. Curhat hanya akan menghabiskan waktu yang memang singkat ini.
Delegasi Irak : ” Kawan, kapan transformasi itu terjadi..? Kita tak bisa menunggunya kawan, sekarang atau tidak sama sekali.”

Delegasi Chili: ” Kawan, jangan menunggu lagi, momentum harus kita ciptakan. Dunia sudah bosan dengan tata dunia yang sekarang, mari kita buat tata dunia baru yang sosialis demokratis. Kita bubarkan seluruh negara2 di dunia, kita bubarkan PBB, dan mari kita bentuk satu negara, Perserikatan Bumi. Tidak akan ada lagi batas2 yang irrasional, bumi adalah tempat tinggal kita bersama, dan mari kita bekerja keras menuju kesejahteraan bersama. Kita butuh ribuan pemimpin muda  yang progresif, revolusioner, pluralis, humanis, egaliter, altruis. Karena apa yang kita lakukan sekarang, adalah masa depan anak cucu di masa mendatang. Baik buruknya dunia di tangan kita, anak cucu kita yang bisa menilainya. Kobarkan Revolusi……….!!!!!!!!!!!!!!!”

“Setuju……………..!!!!!!!!!!!!!!!” suara bersama menggaung, memantul, sahut menyahut, beberapa dari delegasi terlihat meneteskan air mata haru.
” Merdeka…, merdeka…., merdeka…., merdeka…..!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”
Forum menjadi riuh rendah oleh teriakan, pimpinan forum akhirnya mengetukkan palu tiga kali untuk meminta forum tenang.

Delegasi Zimbabwe : ” Kawan, maaf aku tak bisa membaca, tapi dari analisa kawan di sebelah sana tadi…”
Delegasi Chili : ” Aku dari Chili.”
Delegasi Zimbabwe : ” Terima kasih, ya dari analisa kawan dari Chili tadi, tiada kata lain yang kita perlukan adalah revolusi. Mugabe2 bangsat ternyata tidak hanya ada di negaraku, tetapi hampir di semua kolong bumi. Dan revolusi harus dilakukan sekarang, atau tidak sama sekali. Kelaparan tak mampu menunggu hitungan jam apalagi hari, tangis tak patut kau biarkan terjadi berhari-hari. Kematian sia2 tak boleh kita biarkan setiap detik terjadi.”

“Setuju…, Setuju…, Merdeka…., Hidup Rakyat…!!!!!!!!” Forum kembali lagi riuh rendah oleh teriakan. Pimpinan rapat segera mengetukkan palunya.
Pimpinan Rapat : ” Kalau tidak salah aku mencermati, secara aklamasi kita memutuskan untuk mengadakan revolusi, dan revolusi yang kita pilih adalah revolusi elegan, revolusi tanpa kekerasan. Masing2 negara punya penindasnya masing2, kita turunkan mereka. Dan harus kita lakukan secepatnya, karena bumi tidak mampu menunggu lagi. Tapi sebelumnya mari kita menyanyi sebuah lagu untuk merayakan semangat kebersamaan kita. Bagi yang belum hafal teksnya bisa dibaca di layar sebelah sana”
Pimpinan rapat mengambil sebuah gitar akustik………….Mereka menyanyikan himne bersama2, suasana hingar namun khusuk……
**
Am
Bertanya sama-sama
Am
Belajar sama-sama
G                     Am
Kerja sama-sama
Am
Semua orang itu guru
Am
Alam raya sekolahku
G                            Am
Sejahteralah bangsaku   2x

Pimpinan Rapat : ” Kawan, kita mempunyai waktu seminggu sebelum hari yang telah kita tetapkan untuk merubah wajah bumi, konsolidasikan seluruh kekuatan kawan2 muda dan anak2 di seluruh penjuru mata angin, dan jika kita bersatu, tak ada yang mampu mengalahkan kita. Negara2 akan tinggal sejarah, bumi adalah satu. Mari menangis dan tertawa bersama2. Mari menulis lembaran sejarah baru bersama2. Dimanapun Kawan2 muda tinggal, turunkan pemimpin2 diktator, turunkan orang2 tua yang sok tahu dari jabatan publik, bubarkan semua institusi yang menginjak2 hak2 makhluk hidup. Sandi Revolusi kita adalah Mata Hati, Revolusi oleh Pewaris Bumi Yang Perduli, Untuk Semua Penghuni Bumi Tak Terkecuali. 7 hari dari sekarang, tepat jam 00.00 Greenwich Mean Time (GMT), kita melakukan coup serentak di seluruh bagian bumi.”

Palu diketukkan tiga kali. Tepuk tangan membahana, semangat menyala2. Dalam sekejap, semua delegasi telah dikembalikan ke negaranya masing-masing. Jibril tersenyum, forum yang diprakarsainya menghasilkan kesepakatan menggembirakan. Sumpahnya dulu untuk tidak kembali ke bumi ternyata harus dicabut. Tugasnya masih banyak di bumi, bumi butuh nabi2 baru, nabi yang lebih rasional dan jauh memandang ke depan. Nabi yang tidak merengek2 pada Tuhan, Nabi yang mencari Tuhan dengan otaknya bukan dengan hatinya. Nabi yang memimpin rakyat dengan demokrasi, bukan dengan keabsolutan hirarki. Nabi2 wanita, Nabi2 pria. Nabi2 manusia biasa, tanpa mukjizat apa2. Bukan keturunan dewa, apalagi keturunan Jawa, Arab, Yahudi, India, Eropa, atau keturunan bangsawan jumawa. Tidak mengaku berbangsa, selain bangsa manusia. Nabi yang benar2 nabi, membangun makhluk semesta menuju kebahagiaan sejati.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s